Jakarta, IDN Times – Posisi utang pemerintah per Februari 2022 mencapai Rp7.014,58 triliun. Angka tersebut naik sekitar Rp95,43 triliun atu 1,38 persen dibandingkan posisi utang pemerintah pada Januari 2022 yang sebesar Rp6.919,15.
Kementerian Keuangan mencatat, kenaikan nominal utang per Februari 2022 disebabkan oleh penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman di bulan tersebut.
“Penarikan pinjaman dan penerbitan SBN ini digunakan untuk menutup pembiayaan APBN,” tulis Kemenkeu dalam rilis APBN KiTA edisi Maret 2022 yang dikutip Jumat (1/4/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani: Utang Indonesia Lebih Kecil Dibandingkan Negara Maju
1. Rasio utang pemerintah mencapai 40,17 persen terhadap PDB
Dengan nominal utang tersebut, maka rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 40,17 persen.
Sementara itu, pada Januari 2022, rasio utang pemerintah terhadap PDB hanya sebesar 39,63 persen. Artinya, dari sisi rasio terhadap PDB, ada kenaikan sekitar 1,36 persen.
Baca Juga: 5 Perbedaan Utang Produktif dan Utang Konsumtif, Pahami!
2. Utang pemerintah didominasi penerbitan SBN
Lanjutkan membaca artikel di bawah
Editor’s picks
Utang pemerintah itu didominasi oleh instrumen SBN yang mencapai 87,88 persen dari seluruh komposisi utang akhir Februari 2022, dengan nominal Rp6.164,2 triliun.
Adapun komposisi SBN, dalam denominasi rupiah senilai Rp4.901,66 triliun dari penerbitan surat utang negara (SUN) sebesar Rp4.054,18 triliun, dan surat berharga syariah negara (SBSN) sebesar Rp847,48 triliun.
“Berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (rupiah), yaitu 70,07 persen,” tulis Kemenkeu.
Adapun SBN dalam denominasi valuta asing (valas) senilai Rp1.262,53 triliun, yang berasal dari penerbitan SUN Rp978,75 triliun, dan SBSN Rp283,79 triliun.
“Kepemilikan SBN oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05 persen, dan per 15 Maret 2022 mencapai 18,15 persen,” kata Kemenkeu.
Baca Juga: Stafsus Sri Mulyani Endus Pajak Crazy Rich Juragan 99 Rp720 Miliar
3. Utang dari pinjaman luar negeri tembus Rp837 triliun
Sementara itu, pinjaman porsinya hanya sebesar 12,12 persen dari keseluruhan utang per akhir Februari 2022.
Komposisi pinjaman didominasi oleh pinjaman luar negeri sebesar Rp837,11 triliun. Lebih rinci, pinjaman bilateral nilainya mencapai Rp294,36 triliun, lalu multilateral Rp499,09 triliun, dan bank komersial sebesar Rp43,66 triliun.
Baca Juga: Pemerintah Utang Rp109 Triliun ke Pertamina dan PLN
.jpg)

